2019.07.02 07:15 Perarakan intelegensi imaterial dari Wujud Terbesar dengan cara pemancaran yang disetujui sesuai dengan pendapat yang dilhami oleh Teori Pemancaran Neo-Platonik berpendapat yang lemah dan tidak dapat digunakan tentang Tuhan d ari Aristoteles yang mengatakan ticak ada terusan deri Tuban Yang Esa, KE dunia, yang banyak. Menurut para filosof Muslim, meskipun Tuhan tinggal di dalam diri-Nya Sendiri dan jauh lebih tinggi di atas dunia yang diciptakan, tetapi melibatkan partisipasi antara kekekalan dan keniscayaan yang dikumpulkan dari Tuhan dan dunia yang penuh dengan ketidaktentuan. Di samping itu, teori ini sangat dekat untuk orang Islam atas keyakinannya pada para malaik di. Inilah kesempatan pertama untuk membahas bagaimana para filosof Muslim, dengan cara mengolah kembali tradisi filsafat Yunani, tidak hanya membangun sistem yang rasio nal, tetapi juga sistem orientasi yang mengembangkan tradisi Islam. Tapi bagaimana dengan teori pemancaran itu sendiri Apakah hal itu tidak akan merusak garis pemisah yang perlu dan penting antara pencipta dan yang diciptakan, dan terkait dengan dunia yang Panteistik - TVam Asia dengan Islam, Apakah semua agama yang dapat dilakukan? Tidak diragukan lagi bentuk-bentuk Panteisme menjadi lebih dinamis, berbeda dengan paham para absolutis dan bentuk-bentuk panteisme statistik; Bahkan ia dapat diarahkan ke antropomorfisme, atau proses e naikan kembali, untuk mendapatkan kembali kemakhlukan ke arah ke-Tuhan-an, Sekarang, tanggungan untuk melawan bahaya seperti itu sesuai doktrin Ibnu Sina tentang esensi dan eksistensi. Hal ini menciptakan teori lagi yang dirancang untukku menuhi kedua teori dan agama, dan satu lagi untut yang kelengkapan untuk Aristoteles. Pada awal bagian ini, kami mengatakan bahwa Tuhan, dan hanya Tulan saja yang memiliki wujud tunggal, penuh: edang segala sesuatu yang lain memiliki kodrat vang mendua Karena keturggalannya, maka buat Tuhan tu, dan kenvatasn ala la sda, buat dua tidak ada satu wujud tapi sat tidak tomik dalam wujud yang tunggal. Tentang apakah Tuhai iru, hakikat Dia, adalah icentik dengan eksistensi-Nva, Hal ini bukan merupakan kejadian untuk wujud lainny, karena tidak ade kejadian lan yang eksistensnya identik dengan esensinya. dengan kata lain, misalnya seorang Eskimo yang tidak pernah melihal gajah, ia tergolong salah yang berdasarkan kenvataan itu 104
Senin, 01 Juli 2019
I
doktrin Ibnu Sina, yang bukan hanya penting dan menllnjukkal sifat-sifat dari sistemnya, tetapi juga memiliki sangat beragam dan orisinal merupakan pengembangan Ibnu Sina. A. Doktrin tentang Wujud Doktrin Ibnu Sina tentang Wujud, sebagaimana para filosof Muslim diluncurkan, misalnya al-Farabi, mengubah emanasionistis. Dari Tuhanlah, Kemaujudan Yang Mesti, lulus intelegensi nertama, terbang karena hanya dari yang tunggal, yang dapat dibaca, sesaatu dapat mewujud. Hanya sifat intelegensi pertama yang tidak dapat diterima satu, karena ia tidak ada dengan sendirinya, ia hanya mungkin, dan dikeluarkannya dibuat oleh Tuhan. Berkat kedua sifat itu, yang sejak saat itu melingkupi seluruh ciptaan di dunia, intelegensi pertama memunculkan dua kemaujudan yaitu: (1) intelegensi kedua melalui kebaik dan ego hasil dari aktualitas, dan (2) lingk ung pertama dan ter 2 al ggi berdasarkan segi terendah dari keberadaan, ganti al-miahnya. Dua proses pemancaran ini berjalan terus sampai kita mencapai intelegensi yang diterima dunia ini, yang oleh filsafat Muslim disebut malaikat Jibril. Nama ini diberikan, karena ia memberikan bentuk atau "menyerahkan" materi dunia ini, yaitu materi fisik dan akal manusia. Karena itu, qusd ia juga disebut "Pemberi Bentuk" (dator formarum menurut sar-jana-sarjana Barat abad derajat). Kami akan kembali ke mlelegensi-intelegensi lingkung-lingkung ini untuk membahas lebih lanjut sifat-sifat alamiah dan cara-cara, sementara itu kami harus beralih ke sifat Wujud usk das rdap hir ya prins rhatian esemp 2K al-Syifa tbagian pakalogi, karenanya untuk wlanjutkan dengan "Payehologi"). 31 ychology v. 103 2019.07.02 07:14
Kamis, 16 Mei 2019
Book VIII " PLATON REPUBLIK"
Buku VIII
" dan dengan demikian, Glaucon, kita telah sampai pada kesimpulan bahwa dalam negara yang sempurna para istri dan anak- anak harua bersama-sama, dan semua pendidikan dan berbagai usaha perang dan pengajaran perdamaian juga harus sama dan para filsuf yang terbaik dan prajurit yang paling berani harus menjadi pemimpin mereka?"
Hal itu, jawab Glaucon, sudah di akui.
"ya" kataku, "dan lebih lanjut telah kita akui bahwa para gubernur, ketika menunjuk diri mereka sendiri, akan mengambil para prajurit meteka dan menempatkannya di rumah-rumah seperti yang kita jelaskan yang sama untuk semua orang, dan tidak memiliki harta benda pribadi, atau individual, dan dalam kaitannya dengan harta milik mereka, apakah engkau masih ingat apa yang telah kita setujui?"
Ya, saya ingat bahwa tidak boleh ada satu orangpun yang boleh memiliki berbagai harta benda sebagaimana biasa untuk umat manusia, mereka harus menjadi atlet pejuang dan pelindung pejuang, yang menerima dari setiap warga negara lainnya, sebagai pengganti biaya tahunan, hanya biaya hidup mereka, dan mereka harus menjaga dan memelihara diri mereka sendiri dan menjaga serta melindungi seluruh negara.
"benar" kataku, "dan karena bagian tugas kuta ini sudah disimpulkan, marilah kita temukan titik yang disitu kita telah menyinpang, yang memungkinkan kita untuk kembali ke jejak lama."
"tidak ada kesulitan untuk kembali, maka engkau mengimplikasikan seperti sekarang bahwa engkau telah selesai memerikan negara tersebut, engkau mengatakan bahwa negara tersebut adalah baik, dan bahwa manusia memberikan jawaban itu adalah baik, meskipun, seperti yang tampak sekarang ini, engkau punya banyak hal yang jauh lebih bagus untuk menghubungkan negara dan manusia dan lebih lanjut engkau mengatakan bahwa jika inilah bentuk yang sebenarnya, maka bentuk yang lainnya adalah salah, dan dari bentuk yang salah itu, engkau mengatakan, seperti yang saya ingat ada empat kelompok utama, dan bahwa cacat mereka dan berbagai cacat individual yang sejalan dengan berbagai cacat kelompok itu, pantas untuk diuji. Ketika kita telah melihat semua yang individual itu, dan pada akhirnya setuju mengenai siapa yang terbaik itu juga bukan merupakan mengenai yang paling berbahagia, dan yang terburuk itu juga merupakan yang paling menyedihkan. Saya menanyakan padamu perihal empat bentuk pemerintahan yang engkau bicarakan, dan Polemarcus serta Adeimantus nyatakan, dan engkau mulai lagi, menemukan jalanmu menuju titik yang menjadi tempat kita tiba sekarang.
"ingatanmu sangag tepat" kataku,
"maka sama halnya dengan seorang pegulat" jawabnya, "engkau harus sekali lagi menempatkan dirimu dalam satu posisi, dan izinkan saya mengajukan pertanyaan yang sama, dan apakah jawaban yang hendak kau berikan padaku itu merupakan jawaban yang sama".
"Ya, jika saya bisa, akan saya berikan jawaban yang sama" kataku, " saya secara khusus ingin mendengarkan apakah secara khusus ingin mendengarkan apakah empat bentuk negara yang sedang engkau bicarakan."
"pertanyaan itu," kataku, " bisa dijawab dengan mudah sekali, emoat bentuk pemerintahan yang saya bicarakan sejauh ini karena mereka memiliki nama yang jelas, adalah pertama-tama kreta dan sparta, yang umumnya disambut dengan tepuk tangan, negara yang disebut dengan oligarki adalah bentuk berikutnya. Ini tidak bisa sama-sama disetujui, dan bentuk negara oligarki ini merupakan bentuk pemerintahan yang berkubang dalam lumpur kejahatan, yang ketiga adalah negara demokrasi, yang pada dasarnya mengikuti bentuk oligarki. Meskipun sangat berbeda, yang terakhir adakah tirani, yang sangat besar dan terkenal, yang berbeda dari segala bentuk negara yang lainnya itu, dan yang merupakan bentuk negara yang keempat yang terburuk yang tidak dijalankan sebagaimana mestinya sebagai negara. Saga tidak mengetahui bentuk lain ynag dapat dikatakan memiliki karakter yang berbeda. Ada begitu banyak kekuasaan dan kerajaan yang diperjualbelikan. Dan sebagian lainnya lagi merupakan bentuk pemerintahan tingkat menengah. Tetapi semua bentuk pemerintahan ini tidak masuk dalam hitungan dan mungkin ditemukan baik pada bangsa Yunani maupun bangsa barbar"
"ya" jawabnya, "kita tentu saja mendengar berbagai bebtuk pemerintahan yang aneh yang eksis di antara merek."
"apakah engkau tahu," kataku, "bahwa pemerintah beraneka macam sebagaimana watak manusia, dan bahwa pastilah ada banyak negara sebanyak manusia? Karena kita tidak bisa mengandaikan bahwa setiap negara terbuat dari "pohon es dan batu", dan juga bukan dari sifat mnausia yang terkandung di dalamnya, dan memutar skala dan menarik hal lain mereka?"
"ya" katanya, "negara itu seperti manusia yang beraneka ragam, negara itu tumbuh dari karakter manusia"
"maka apabila konstitusi negara-negara itu ada lima, maka watak pukiran individu juga ada lima?".
Tentu saja
Seorang yang cocok aristokrasi, dan baru saja kita namakan adil dan baik, sudah kita dekskripsikan.
Betul.
Book VIII
Book VIII
Well, then, Glaucon, we've agreed to the following: if a city is to achieve the height og good government, wives must be in common, children and all their aducation must be in common, and their kings must be those among them who have proved to be best, both in philosophy and in warfare.
We have agreed to that, he said.
Moreover, we also agreed that, as soon as the rulers are established, they will lead the soldiers and settle them in thd kind of dwellings we described, which are in no way private but common to all. And we also agreed, if you remember, what kind of possessions they will have.
I remember that we thought that none of them should acquire any of the things taht the other rulers now do but that, as athletes of war and guardians, they should receive their yearly upkeep from the other citizens as a wage for guardianship and look after themselves and the rest of the city.
That's right, but since we have completed this discussion that brought us here, so that we can continue on the same path from where we left off.
That isn't difficult, for, much the same as now, you were talking as if you had completed the description of the city. You said thet you would class both the city you described and the men who is like it as good, even though, as it seems, you had a still finer city and man to tell as about. But, in any case, you said that, if this city was the right one, the others were faulty. You said, if i remember, that there were four types of constitution remaining that are worth discussing, each with faults that we should observe, and we should do the same for the people who are like them. Our aim was to observe them all, agree which man is best and which worst, and then determine whether the best is happiest and the worst most wretched or whether it's otherwise. I was asking you which four constitutions you had in mind when polemarchus and adeimantus interrupted. And that's when you took up the discussion that led here.
Well, then, like a wrestler, give me the same hold again, and when i ask the same question, try to give the answer you were about to give before. If i can.
I'd at least like to hear what four constitutions you meant.
That won't be difficult since they're the ones for which we have names. First, there's the constitution praised by most people, namely, the cretan or Laconian. The second, which is also second in the praise it receives, is called oligarchy and is filled with a host of evils. The next in order, and antagonistic to it, is democracy. And finally there is genuine tyranny, surpassing all of them, the fourth and last of the diseased cities. Or can you think of another type of constitution—I mean another whose form is distinct from these? Dynasties and purchased kingships and other constitutions of that sort, which one finds no less among the barbarians than among the greeks, are somewhere intermediate between these four.
At any event, many strange ones are indeed talked about.
And do you realize that of necessity there are as many forms of human character as there are of constitusions? Or do you think that constitutions are born "from oak or rock" and not from the characters of the people who live in the cities governed by them, which tip scales, so to speak, and drag the rest along with them?
No, i don't believe they come from anywhere else.
Then, if there are five forms of city, there must also be five forms of the individual soul.
Of course.
Now, we've alredy desribed the one that's like aristocracy, which is rightly said to be good and just.
We have.
Selasa, 23 April 2019
Deks
FILSAFAT SEJARAH HEGEL
Dekskripsi Tema.
" makna kehidupan yang paling mendalam ada pada apa yang mereka sebut 'Ruh Dunia'."
Dalam pembahasan ini, Hegel juga menggunakan istilah 'ruh dunia'tetapi dalan suatu pengertian baru. Ketika Hegel berbicara tentang 'ruh dunia' atau 'akal dunia', yang dimaksudkannya adalah seluruh perkataan manusia, sebab hanya manusia yang mempunyai 'ruh'.
Dalam pengertian ini, dia dapat membicarakan kemajuan ruh dunia sepanjang sejarah. namun, kita tidak boleh lupa bahwa Dia mengacu pada kehidupan manusia, pikiran manusia, dan kebudayaan manusia
Seperti halnya dengan Kant yang mempunyai teori ' das Ding an Sich'. Meskipun Kant bahwa manusia mungkin dapat memiliki kesadaran yang jernih tentang rahasia-rahasia alam yang paling dalam, Hegel mengakui bahwa adanya semacam kebenaran yang tak dapat dicapai. Hegel mengatakan bahwa kebenaran itu subjektif dan dengan demikian menyangkal adanya kebenaran tertinggi di atas atau di luar akal manusia. Semua pengetahuan adalah pengetahuan manusia.
Sesungguhnya sangat diragukan apakah kita dapat mengatakan bahwa Hegel mempunyai 'Filsafat' sendiri. Yang biasanya di kenal sebagai filsafat Hegel terutama adalah metode untuk memahami kemajuan sejarah. Filsafat Hegel tidak mengajarkan apa- apa pada kita tentang hakikat batiniah kehidupan, tapi ia dapat mengajari kita untuk berpikir secara produktif.
Seluruh sistem filsafat sebelum Hegel mempunyai satu kesamaan, yaitu usaha untuk menetapkan kriteria abadi untuk apa yang dapat diketahui manusia tentang denia. Hal ini berlaku juga bagi Descartes, Spinoza, Hume, dan Kant. Setiap orang berusaha untuk melidiki dasar kesadaran manusia. Tapi mereka semua telah membuat pernyataan mengenai faktor pengetahuan manusia yang kekal tentang dunia.
Bukankah itu tugas seorang filsafat ?
Hegel tidak percaya hal itu mungkin. Dia yakin bahwa dasar kesadaran manusia berubah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, tidak ada
" Kebenaran Abadi", tidak ada akal yang kekal. Satu- satunya titik pasti yang dapat dijadikan pegangan bagi filsafat adalah itu sendiri. Hegel menganalogikan pandangan tersebut seperti, " sebuah sungai juga selalu berubah, itu bukan berarti bahwa kamu tidak bisa membicarakan tentangnya". Tapi kamu tidam dapat menhatakan di tempat mana di di lembah itu sengai tersebut merupakan sungai 'yang paling benar".
Demikian juga bagi Hegel, sejarah itu seperti sungai yang mengalir. Setiap gerakan kecil apapun dalam air di tempat tertentu di tentukan oleh jatuh dan besarnya air dahulu. Tapi gerakan- gerakan ini pun di tentukan oleh bebatuan dan lika liku sungai pada titik dimana kamu mengamatinya.
Dalam sejarah pemikiran atau akaladalah seperti sungai ini. Pemikiran-pemikiran yang dicuci sepanjang aliran tradisi yang telah lewat, serta kondisi-kondisi material yang ada pada waktu itu, ikut berpengaruh menentukan caramu berpikir. Oleh karena itu, kamu tidak dapat menyatakan bahwa pemikiran tentu benar selama-lamanya. Tapi pemikiran itu bisa jadi benar dari tempat kamu berdiri. Oleh karena itu, kamu tidak dapat menyatakan bahwa pemikiran tertentu benar selama-lamanya. Tapi pemikiran itu bisa jadi benar dari tempat kamu berdiri.
1. Refleksi
Hegel mengemukakan bahwa dalam kaitan dengan refleksi filsafat pun, akal itu dinamis, dalam kenyataannya itu merupakan suatu proses. Dan 'kebenaran' adalah proses yang sama, sebab tidak ada kriteria diluar proses sejarah itu sendiri yang dapat menentukan apa yang paling benar atau paling masuk akal.
Hegel menyatakan bahwa 'ruh dunia' berkembang menuju pengetahuan itu sendiri yang juga terus berkembang. Sama halnya dengan sungai, menjadi semakin lebar ketika mendekati laut. Menurut Hegel, sejarah adalah kisah tentang 'ruh dunia' yang lambat laun mendekati kesadaran itu sendiri. Meskipun dunia itu selalu ada, kebudayaan manusia dan perkembangan manusia telah membuat ruh dunia semakin sadar akan nilainya yang hakiki.
Menurut Hegel, ruh dunia merupakan realitas sejarah, itu bukan suatu ramalan, siapa pun yang mempelajari sejarah akan mengetahui bahwa umat manusia telah melangkah maju menuju 'pengetahuan diri' dan 'perkembangan diri' yang semakin meningkat. Hege juga berpendapat bahwa telaah atas sejarah menunjukkan bahwa umat manusia bergerak menuju rasionalitas dan kebebasan yang semakin besar. Meskipun ada banyak kendala, perkembangan sejarah selalu bergerak maju. Kita katakan bahwa sejarah itu mengandung makna tertentu.
Sejarah adalah suatu rangkaian perenungan yang panjang. Hegel jugaenunjukkan laturan-aturan tertentu yang berlaku bagi rangkaian perenungan ini siapapun yang mempelajari sejarah secara mendalam akan mengetahui bahwa suatu pemikiran biasanya diajukan atas dasar pemikiran-pemikiran lain yang sebelumnya pernah diajukan, ia akan di hadapkan pada pemikiran lain, satu ketegangan akan muncul di antara dua cara berpikir yang saling bertentangan ini. Tapi ketegangan itu di cairkan oleh pemikiran ketiga yang dapat menunjukkan hal-hal terbaik dari kedua sudut pandang tersebut. Hegel menyebut ini suatu pro1ses dialektis.
Tokoh
1. Tokoh-tokoh Sejarah
Jika ada orang yang ingin secara lebih saksama dan lebih mendalam mempelajari kehidupan bangsa-bangsa lain, kiranya dapat disebutkan disini bebberapa nama tokoh sejarah yang telah sebegitu mendalam dan dalam rentang waktu yang panjang telah mempelajari segala hal ihwal peristiwa kesejarahan. Meskipun diantara mereka tak satupun yang berpikir dan merasa menjadi tokoh sejarah. Hal ini tentu saja disebabkan karena mereka adalah tokoh sejarah yang memiliki kepedulian sejarah secara lansung terhadap setiap peristiwa kesejarahan yang terjadi. Mereka mempelajari setiap peristiwa sejarah tidak hanya sebatas untuk pengetahuan pribadi semata, akan tetapi lebih dari itu dengan sepenuh hati dan segala kesungguhan serta secara lebih mendalam bahkan mamou menikmati setiap karya kesejarahan yang mereka ciptakan.
Beberapa nama tokoh itu antara lain :
a. Herodotus (sang bapak sejarah)
Dalam karyanya persian, wars
b. Thucydides
Dalam karyanya peloponnesian war,
c. Xenophone
Dengan karya originalnya yang berjudul the persian expedition
d. Caesar
Dengan karyanya yang berjudul
Commertaries.
e. Guicciardinia
Dengan karyanya History of Italy (1936)
Mereka adalah nama-nama tokoh yang jelas memiliki masterwork yang dihasilkan dari pemikiran-pemikiran besarnya. Pada masa-masa terdahulu, nampak jelas memang para ahli sejarah tersebut merupakan tokoh besar dan seorang negarawan yang disegani baik oleh kawan mauoun lawan. Sedangkan pada abad pertengahan situasinya sudah sedikit berbeda, sebab sejarah berada di tangan para mentri atau uskup yang berada pada pusat-pusat kekuasaan.
Persoalan yang dapat kita lihat sesungguhnya adalah persoalan paling mendasar yang mereka ungkapkan yaitu persoalan hidup dan persoalan-persoalan terkini yang dihadapi di sekitar dunia mereka. Kebudayaan yang sedang berlansung dan melingkupi para pengarang tersebut, juga berbagai peristiwa yang terjadi saat karya-karya ini dikerjakan, pun pula spirit yang menjiwai para pengarang tersebut, dan juga peristiwa yang terjadi saat karya-karya itu dikerjakan, pun pula spirit yang menjiwai para pengarang serta berbagai langkah yang di berikan pada dasarnya merupakan persoalan persoalan yang sama, seiring dan serupa. Semuanya menggambarkan apa yang mereka saksikan atau yang paling tidak rentetan peristiwa kehidupan yang mereka alami. Sepenggal untaian waktu yang singkat, pola-pola individual manusiawi maupun rangkaian peristiwa yang terjadi semuanya perupakan hal yang luar biasa. Karya karya yang tampa perenungan dihasilkan dari sebuah potret masa, dengan harapan agar gambaran tersebut dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya secada gamblang dan jelas sesuai yang mereka amati secara lansung atau yang mereka perhitungkan dari saksi sejarah yang lain. Dia tidak berkepentingan dan juga tidak khawatir terhadap berbagai perenungan pada berbagai peristiwa tersebut, baginya kehidupan di dalam the spirit of the times merupakan hal yang segala galanya dan tidak boleh tidak semua itu melebihi mereka.
Metode sejarah
FILSAFAT SEJARAH (HEGEL)
Oleh: Ikbal Alimuddin
METODE-METODE SEJARAH
A. Dekskripsi Tema
Sesungguhnya sangat diragukan apakah kita dapat mengatakan bahwa Hegel mempunyai 'Filsafat' sendiri. Yang biasanya di kenal sebagai filsafat Hegel terutama adalah metode untuk memahami kemajuan sejarah. Filsafat Hegel tidak mengajarkan apa- apa pada kita tentang hakikat batiniah kehidupan, tapi ia dapat mengajari kita untuk berpikir secara produktif.
Sejarah, menurut Hegel, adalah serangkaian kisah cerita perkembangan kesadaran akan kebebasan di dunia, suatu perkembangan semangat kemanusiaan di masa- masa melewati pertumbuhan dari kesadaran dirinya. Dalam pembahasa sejarah ini, Hegele memberikan beberapa metode yang berkaitan dengan sejarah yaitu, asal usul sejarah, perenungan sejarah dan sejarah kefilsafatan dunia.
B. Asal- usul Sejarah
1. Tokoh - tokoh Sejarah
Asal muasal sejarah, menurut Hegel, dalam pembahasan ini perlu dihadirkan beberapa nama tokoh dalam sejarah yang memiliki pengaruh yang besar bagi dunia, diantaranya adalah Herodotus, Thucydides dan tokoh- tokoh sejarah lain dengan segala gambarang sepak terjangnya. Kerena bagi Hegel, berbagai fakta dan situasi yang mereka saksikan yang kemudian mereka tuangkan dalam karya- karya yang mereka hasilkan. Bisa menjadi sumber untuk menentukan asal muasal
Menurut Hegel, sudah barang tentu para sejarawan awam sedemikian mengandalkan dan menyandarkan diri pada berbagai laporan serta catatan pihak lain, karena memang tidak mungkin seseorang mampu memandang berbagai persoalan yang dihadapi secara mandiri tampa peran serta pihak lain, sehingga para sejarawanpun membalut bersama dan apa yang menjadi kekurangan mereka sepanjang bentangan waktu dan menempatkan semua itu pada ingatan dan menyerahkannya pada keabadian.
Disamping itu berbagai legenda, lagu- lagu rakyat, dan berbagai sumber ragam tradisi masyarakat semunya tidak bisa dijadikan sebagai sumber untuk menentukan asal muasal sejarah, karena menurut Hegel, semua itu tidak jelas dan mengaburkan berbagai metode sejarah, atau lebih tepatnya kesemuanya itu hanya merupakan mentalitas masyarakat yang belum melek huruf.
2. Sumber Sejarah
Sebaliknya dalam pandangan Hegel, yang dapat dijadikan sumber untuk menentukan asal muasal sejarah adalah hal- hal ihwa mengenai apa yang diketahui dan diinginkan masyarakat. Dengan demikian, para ahli sejarah awal mengusung berbagai peristiwa, juga berbagai aksi dan situasi yang mereka hadapi dalam gambaran berbagai karya. Oleh karena itu, menurut Hegel, kandungan isi berbagai sejarah tersebut, tidak bisa menjadi cakupan sejarah eksternal besar.
C. Perenungan Sejarah
Metode yang kedua yang dikemukakan oleh Hegel adalah apa yang dinamakannya metode reflektif. Menurut Hegel, sejarah dalam pengertian ini adalah orang-orang yang dapat menghadirkan semangat tertentu untuk sepanjang zaman melampaui waktu saat ahli sejarah masih hidup. Berkenaan dengan hal tersebut, Hegel membuat membuat beberwpa pembagian tipe yang berbeda yaitu:
1. Sejarah semesta
menurut Hegel, tipe ini sesungguhnya merupaka cara terbaik asalkan pendekatan model pertama ini dilakukan oleh para ahli sejarah, lalu ditulis secara jelas dan gamblang sehingga para pembaca mampu menangkap kesan dari apa yang mereka dengar dari berbagai cerita suatu peristiwa secada kontemporer dan dengan mata kepala sendiri.
Akan tetapi menurut Hegel, apabila hal ini hanya dilakukan oleh seorang ahli sejarah saja, dimana seorang ahli sejarah tersebut harus dan hanya memiliki sebuah kebudayaan khusus maka selalu saja akan menampilkan nada- nada sumbang karena hanya sekedar meng-cover sejarah yang ia saksikan pada masanya saja, dan sudah barang tentu, sebagaimana yang sering kali terjadi, penulis tidak mampu membawa dan menyampaikan spirit sejarah maupun spirit zaman, dia hanya akan menyampaikan suatu hal yang sangat berbeda dengab ruh semangat zaman.
2. Pragmatis
Menurut Hegel, ketika kita sejenak menengok pada dunia masa lalu yang begitu jauh, maka seoalah- olah dunia itu menjadi hadir dalam pikiran kita melalui aktivitas pikiran itu sendiri dan dunia yang ditangkap kembali itu pada dasarnya merupakan pikiran- pikiran yang patut dihargai. Ada berbagai peristiwa yang tentuya berbeda- beda, tetapi semuanya itu dapat di rangkai dalam sebuah bingkai pola susunan universal dan memiliki makna yang mendalam. Pola inilah yang dapat menghapuskan kesan seolah- olah peristiwa itu merupakan peristiwa masa lalu, dan justru membuat seoalah- olah peristiwa itu hadir kini, bahkan seolah- olah peri kehidupan masa lalu itu hadir didalam dunia masa sekarang ini. Namun demikian, apakah perenungan semacam ini benar-benar dapat memenuhi sebuah kekuatan dan kepentingan tertentu, hal itu jelas tergantung pada pemikiran penulisnya.
3. Kritis
Menurut Hegel, tipe ini memang harus dikemukakan di sini karena merupakan trend
Baru kesejarahan yang saat ini sedang marak di jerman. Apa yang dimaksudkan dengan sejaraj disini bukanlah sejarah itu sendiri melainkan sejerah penulis kesejarahan. Serta evaluasi kritis atas pertimbangan kesejarahan serempak dengan penyelidikan kebenarannya sekaligus uji kelayakan apakah penulis tersebut memang pantas untuk dipercaya, apa yang dimaksudkan disini menjadi perkecualian, sebab memuat pemikiran yang cerdas penulisnya di dalam menyerap suatu hal yang baru dari berbagai catatan kesejarahan, bukan dari hal-hal yang berada dalam diri mereka sendiri. Contoh: Bangsa Prancis dalam hal ini, memiliki pemikiran yang sangat bijak dan kontribusi yang sangat besar di bidangnya. Pada umumnya, mereka memiliki pemikiran yang sama, mereka tidak hanya sekedar melakukan validasi terhadap prosedur kritis inisebagai suatu hal yang menyangkut kesejarahan, tatapi lebih dari itu mereka telah mengorganisir evaluasisnya di dalam sebuah format risalah ilmiah yang kritis.
4. Spesialisasi
Menurut Hegel, meskipun spesialisasi itu merupakan abstraksi dari keseluruhan, namun tipe ini merupakan sebentuk transisi menuju sejarah kefilsafatan dunia, dengan mengambil satu titik persoalan atau sudut pandang yang universal (misalnya saja, sejarah seni, sejarah hukum, sejarah agama). Pada masa kita sekarang, tipe sejarah konseptual ini telah dikembangkan sedemikian luasnya karena memang memiliki banyak keunggulan dibanding dengan tioe yang lain. Berbagai cabang dari bagian ini, terkait secara luas dengan totalitas sejarah suatu masyarakat. Hanya saja persoalannya adalah apakah totalitas itu memang betul- betul memiliki koherensi yang jelas atau hanya sekedar mencari-cari di dalam sirkumtansi- sirkumtansi eksternal. Pada kasus yang terakhir, kebetulan kelihatannya nampak asing sekali dan berbeda dengan masyarakat lainnya.
Dengan demikian menurut Hegel, jika perenungan sejarah itu bisa mengikuti sudut pandang yang umum, maka disitulah yang memang pantas kita catat sebagai sebuah tipe yang benar-benar bagus. Berbagai sudut pandang tersebut tidak hanya memiliki benang merah dengan berbagai persoalan diluar ataupun bahkan kepentingan dari dalam saja, tatapi lebih dari itu, tipe refleksi ini merupakan semangat pendorong dari dalam atas setiap tindakan, fakta, dan peristiwa.
D. Kefilsafatan Sejarah
Metode terakhir yang di kemukakan oleh Hegel adalah metode filosofis. Menurut Hegel, metode yang ketiga ini, bagaimanapun juga, nampaknya tetap memerlukan uraian penjelas atau justifikasi.
Prinsip universal ini merupaka term "filsafat sejarah" yang tidak ada persoalan signifikan lainnya kecuali kebijaksanaan konsiderasi sejarah. Inilah yang dimaksydkan oleh Hegel pemikiran filsafat terhadap sejarah.
Disamping itu Hegel juga mengemukakan pandangannya bahwa, Apabila para filsuf melakukan pendekatan sejarah dengan menggunakan tipe pemikiran ini, ia menghubungkan sejarah sebagai sebuah bahan dasar tidak dibiarkan begitu saja adanya, tetapi lalu ditafsirkan atau di uraikan sesuai dengan gagasan ide pemikirannya a priori. Akan tetapi sejak sejarah sedikit menghindari informasi yaitu apa yang sedang dan yang telah terjadi dari berbagai tindakan, fakta dan peristiwa dan sejak sejarah tetap berada pada batas-batas yang diberikannya sendiri, maka agaknya pendekatan ini nampak berada pada situasi konflik dengan bidang kajian filsafat. Dan inilah kontradiksi yang memang sedang terjadi bersamaan dengan terpaan dan celaan yang ditujukan pada tindakan spekulasi, yang memang harus dijelaskan dan ditemukan jalan pemecahannya disini. Namun demikian, hal ini harus dilakukan tampa memasukkan berbagai pembetulan dari sejumlah sudut pandang salah yang saat ini dipegangi (atau selamanya menjadi isapan jempol) berkenaan dengan tujuan, kepentingan, dan perlakuan apakah kesejarahan itu dan keterkaitannya dengan filsafat.
E. Tanggapan
Dalam pandangan- pandangan di atas, yaitu metode-metode sejarah yang dikemukakan oleh Hegel, saya sangat setuju dengan metode-metode sejarah yang dikemukakannya, seperti asal usul sejarah, perenungan sejarah dan kefilsafatan sejarah, yang kesemuanya memberikan kita pemahaman baru mengenai sumber-sumber sejarah, serta berbagai tipe yang digunakan dalam sejarah.